Pemimpin Bisnis Harus Memiliki ini

Pengembangan individu dan penguatan perusahaan memerlukan pemimpin sebagai petunjuk jalan yang mampu membangkitkan optimisme dan keyakinan dalam merealisasikan gagasan-gagasan besar perusahaan. Menjadi tantangan kepemimpinan untuk membuat setiap orang merasa terpanggil (calling) ke dalam tugas dan perannya serta membuat mereka merasa sebagai anggota sebuah komunitas dari masyarakat universal dengan cita-cita dan idealismenya yang kukuh. Fry mengemukakan bahwa rasa keterpanggilan dan keanggotaan ini penting untuk ketahanan spiritual pegawai. Tanpa kedua hal ini, sulit unutk membayangkan munculnya dorongan dari dalam diri pegawai sendiri (Internal Motivation) serta komitmen pribadi (self Commitment) terhadap pencapaian tujuan korporat.

Pemimpin sebagai petunjuk jalan banyak ditemukan pada para pemimpin besar dan guru masyarkat. Dakan kajiannya tentang kecerdasan spiritual, Sisk dan Torence mengemukakan beberapa karakteristik mereka: memiliki persepsi dan nilai-nilai yang mencerminkan persepektif lebih besar, dan sebagai dampaknya, perkataan dan tidakan mereka membangunkan kesadaran orang tentang kebenaran universal. Mereka tergolong para pencari jalan spiritual karena kekuatannya memperbarui masyarkat, membangun harapan, dan meningkatkan cita-citanya, Sisk dan Torence menggambarkan mereka denga sangat tepat, Being In the world, but not of it,  memiliki kemampuan mentransformasi kondisi-kondisi masyarkat, sekalipun kondisi-kondisi tersebut membatasi mereka.

Kualitas pencari jalan spiritual inilah yang dimasudkan dengan pemimpin sebagai penunjuk atau pengarah jalan. Kualitas semacam itu mampu menumbuhkan rasa keterpanggilan pada tugas dan peran dan rasa keanggotaan yang paling dalam serta penuh makna pada organisasi korporat. Kita membutuhkan kualitas spiritual pathfinder ini mengingat kecenderungan kompleksifikasi organisasi korporat dewasa ini. Lowendahl dan Revang menyebutkan dua pola kompleksifikasi ini ke dalam, organisasi korporat sendiri terkait dengan para internal stakeholder, sedangkan keluar, terkait pada external stakeholder. Yang pertama menyangkut kian komplekasnya struktur, proses, dan perilaku organisasi. Sedangkan yang kedua menyangkut rumit dan beratnya tantangan lingkungan yang sudah terglobalisasi. Kombinasi tantangan internal dan eksternal ini membuat organisasi korporat berada pada situasi di mana pembuharuanm terobosan dan inovasi yang cepat menjadi kebutuhan pokok yang rutin, karena itu, organisasi korporat perlu dirancang dengan pola-pola yang menekankan pada pembelajaran (learing), spontan dan informal (emergent), serta bebasis sumber daya (resource).

Senge merumuskan lebih tegas dengan konsepnya tentang organisasi pembelajaran (Learning Organization). Dikemukakan oleh Senge, setiap orang di dalam oraganiasi korporat perlu mengembangkan lima disiplin:

  1. Senantiasa berpikir secara kesisteman
  2. Penguasaan diri untuk senantiasa mengarahkan kehidupan pada realisasi hasil-hasil yang paling bermakna bagi diri
  3. Kesediaan untuk membongkar dan mengoreksi diri sendiri dari berbagai keyakinan, anggapan dan pikiran keliru yang menyesatkan
  4. Obsesi membangun masa depan bersama
  5. Belajar bersama dari berbagai tantangan dalam berkiprah membangun masa depan bersama.

Jadi pemimpin sebagai spiritual pathfinder sesungguhnya berorientasi pada pertumbuhan keyakinan dan optimisme tentang masa depan, mengajari arti dan tujuan hidup yang paling bermakna serta memberi identitas tentang siapa danapa kita. Dengan kata lain mereka memberikan visi dan misi organisasi korporat, sserta arti dan makna setiap orang di dalamnya. Kompleksifikasi dan konsekuensi pada perlunya pembelajaran organisai jelas memerlukan para spiritual pathfinder tersebut.

 

 

Source:

Sanerya, Hendrawan, Spiritual Management, Bandung: Mizan,  2009

Share
← Prev Project Back to Works Next Project →